Perbedaan Millenial Travellers Dengan Generasi Sebelumnya

Millennial TravellersPerbedaan Milenial Travellers Dengan Generasi Sebelumnya, Traveling kini sudah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, terutama bagi generasi milenial. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Topdeck Travel kepada 31.000 orang dari 134 negara berbeda, 88 persen di antaranya menyatakan telah melakukan perjalanan ke luar negeri rata-rata tiga kali dalam setahun.

Uniknya, 94 persen koresponden dari survei tersebut berada di usia yang terbilang muda yakni, 18-20 tahun. Dominasi generasi milenial di sektor pariwisata juga sempat dijelaskan secara gamblang oleh Deputi Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Rizki Handayani.

“Tren pariwisata saat ini menunjukkan generasi milenial sangat berpengaruh bagi industri pariwisata dunia. Milenial travelers terus tumbuh dalam jumlah besar dan mengubah pola perjalanan,” tutur Rizki dalam acara FGD Millennial Tourism: Tantangan Perubahan Model Bisnis Pariwisata di Era Milennial Tourism, di JW Marriot, Jakarta Selatan,

Lebih lanjut Rizki mengatakan, Dalam 10 tahun ke depan, milenial diprediksi akan membentuk 75% tenaga kerja global. Maraknya penyedia jasa perjalanan online di dunia maya, semakin membuktikan bahwa generasi milenial memiliki andil dalam memajukan industri pariwisata.

“Pada tahun 2030 nanti, akan ada banyak sekali travelers milenial yang melakukan perjalanan wisata di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan sebuah langkah jitu untuk mengubah pola bisnis pariwisata yang saat ini sedang digodok oleh Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pariwisata,” tegasnya.

Pasalnya, para milenial travelers ini mempunyai kesenangan untuk berpetualang atau traveling, namun mereka cenderung menggunakan jasa-jasa perjalanan wisata yang berbasis aplikasi, bukan konvesional. Hal ini tentu menjadi salah satu tantangan besar bagi pelaku bisnis pariwisata di Tanah Air untuk segera menyesuaikan model bisnis mereka sesuai dengan tuntutan pasar.

Dalam kesempatan yang sama, Asdep Manajemen Strategis Kemenpar Frans Teguh mengatakan, di era digital saat ini, kaum milenial merupakan pemeran utama dalam hal teknologi.

“Kaum Generasi Y ini mudah terlihat dengan kegemaran mereka berwisata dan lebih senang bepetualang, dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Minimnya pengalaman tidak mengurungkan niat mereka untuk mengaktualisasi diri. Ini yang membedakan generasi sebelumnya yang sudah berpengalaman dan lebih menyenangi aktivitas yang sudah jelas,” kata Frans.

Wisatawan milenial akan terus tumbuh dan menjadi pasar utama. Diproyeksikan pada tahun 2030 mendatang, pasar pariwisata Asia didominasi wisatawan milenial berusia 15-34 tahun mencapai angka 57%. Di China, kaum milenial mencapai 333 juta, Filipina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand 19 juta, sedangkan Indonesia 82 juta.

Editor : Nur Rosyid

Tips Agar Menjadi Generasi Milenial Yang Sukses Dimasa Depan

generasi milenial yang suksesTips Agar Menjadi Generasi Milenial Yang Sukses Dimasa Depan, Generasi Y atau yang biasa dikenal generasi millennium merupakan generasi yang muncul setelah generasi X. Orang-orang yang lahir pada tahun 80 sampai 2000-an disebut sebagai generasi ini. Berbagai spekulasi negatif tentang generasi ini juga muncul, seperti contohnya malas. Padahal, generasi ini justru yang mendominasi masyarakat produktif yang ada di dunia.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) hingga tahun 2017 jumlah generasi milenial di Indonesia saat ini sebesar 84 juta orang. Baik pria maupun wanita memiliki beragam pilihan dalam memilih passion mereka masing-masing.

Yoris Sebastian selaku Pakar dan Pemerhati milenial mengatakan, “Menurut survey, generasi millennial adalah generasi yang cepat tetapi bukan instan, mereka dihadapkan pada banyaknya pilihan dan kesempatan. Jadi, untuk mereka yang ingin lebih berinspirasi tentu diperlukan wadah untuk menampung minat dan bakat yang nantinya akan mendorong semangat mereka agar lebih terfokus pada cita-cita.”

Generasi milenial cenderung tidak bisa fokus pada satu pekerjaan saja, sehingga mereka lebih suka memanfaatkan kesempatan untuk berpindah-pindah pekerjaan. “Untuk mewujudkan mimpi, ada banyak hal yang harus kita lakukan. Kita harus bisa fokus kepada tujuan kita,” ujar Dellie Threesyadinda seorang Atlit Panahan saat ditemui Okezone

“Selain itu, kita harus konsisten karena sangat penting ketika kita mau mengejar cita-cita. Kemudian, hal yang paling sulit juga adalah mengalahkan diri kita sendiri agar mampu menjaga mood dan bagaimana kita bisa berjuang dan bangkit lagi saat kita mengalami kegagalan agar terus bisa memotivasi diri sendiri,” lanjutnya.

Di era digital ini, banyak tantangan yang dihadapi sehingga setiap orang memilki kekuatan dalam bertahan yang berbeda-beda. Orang pada generasi ini harus pintar dalam memanfaatkan situasi yang ada. Generasi milenial yang sering berpindah-pindah pekerjaan hanya mencoba untuk mencari zona nyamannya.

Cara mengembangkan minat dan bakat adalah berfokus pada kekuatan yang ada pada diri sendiri. Jadi, jangan sia-siakan potensi yang ada dengan menjadi diri sendiri. Ketekunan juga menjadi faktor yang akan bisa membantu kita dalam mencapai kesuksesan dan menggapai apa yang kita mau.

Langkah Merubah Anak Muda Jadi Pengusaha Milenial Masa Depan

pengusaha milenial masa depanLangkah Merubah Anak Muda Jadi Pengusaha Milenial Masa Depan, Sebagian besar anak muda milenial saat ini kerap bingung dan kesulitan dalam menentukan masa depannya. Mereka tidak tahu profesi apa yang akan mereka geluti di masa depan, entah menjadi pegawai swasta atau menjadi seorang wirausaha di bidang yang mereka sukai.

Terkadang berbagai hambatan seperti kurangnya pengalaman dan juga pengetahuan tentang seluk beluk bisnis menjadi salah satu masalah yang dihadapi generasi milenial. Selain itu faktor ekonomi atau permodalan menjadi hal lain yang membuat anak-anak milenial enggan berwirausaha.

Namun, sejatinya pikiran tersebut harus dibuang jauh-jauh. Founder Founda, Albert Palit, menegaskan para generasi milenial seharusnya bisa mewujudkan mimpi-mimpi mereka dengan berwirausaha. dia mengatakan bahwa sesuatu tidak ada yang tidak mungkin tanpa usaha dan kerja keras.

Albert menjelaskan bahwa anak-anak milenial harus bisa lebih aktif dan kreativ dalam mengembangkan impian mereka. Semakin banyaknya influencer muda yang berbakat dan memiliki latar belakang yang bervariasi bisa menjadi pelecut semangat untuk berwirausaha.

“Saat ini banyak sekai inspirator muda yang tidak hanya ada dalam dunia maya, namun hal itu juga ada dalam dunia nyata. Hal inilah yang bisa dimanfaatkan oleh generasi millenial untuk memiliki semangat dan jiwa berwirausaha sesuai dengan cita-cita yang diharapkan,” tegas Albert saat dijumpai Okezonedi Pluit.

Tak hanya itu, Albert juga membagikan tips yang dibutuhkan seseorang agar bisa menjadi seorang wirausaha. Menurutnya ada empat hal penting yang harus dilakukan.

1. Know your market

Sebelum memulai usaha, ada baiknya Anda mencari dahulu usaha apa yang hendak dikembangkan. Anda harus bisa memetakan siapa yang akan menjadi pelanggan dan menjadi rekan kerja. Beberapa anak millenial mengatakan mencari pekerjaan itu sulit, namun bagi pengusaha yang tersulit itu adalah mencari rekan kerja.

2. Know your momentum

Sebagai seorang wirausaha, Anda tidak boleh melewatkan momen yang ada. Anda harus bisa menemukan waktu di mana harus berinovasi dan mengikuti tren yang ada saat ini.

3. Unleash your potential

Sebagai calon wirausaha, Anda sudah seharusnya mengetahui keterampilan dan bakat yg dimiliki. Fokuslah pada kekuatan diri sendiri dan pergunakan itu sebagai modal utama Anda dalam berwirausaha.

4. Push

Push terdiri dari tiga bagian. Push your partner, push employee, and push your God. Push your partner artinya Anda harus mendorong partner anda untuk sama-sama bersemangat dalam mengembangkan usaha yang dijalankan. Push employee artinya sebagai seorang wirausaha, Anda harus mendorong dan memecut kinerja pegawai agar dapat lebih produktif dan lebih baik lagi.

Push your God berarti Anda tidak boleh lupa untuk meminta jalan keluar dan pencerahan kepada Tuhan. “Semua kesuksesan ditentukan oleh Tuhan, jadi harus selalu yakin dan pray until something happen,” tandasnya.

Tantangan Generasi Milenial Indonesia Dalam Menentukan Karier

tantangan generasi milenial indonesiaTantangan Generasi Milenial Indonesia Dalam Menentukan Karier, Generasi milenial punya banyak tantangan dalam menekuni sebuah karier. Terlebih, saat ini mereka hidup di zaman serba digital dan tidak sering menghadapi sebuah proses panjang.

Padahal bidang lapangan pekerjaan saat ini sangat luas dan bervariasi. Tapi pastinya kalau salah pilih bisa bikin Anda cepat putus asa.

Konsultan People Development and Culture Ricky Setiawan mengatakan, anak muda saat ini banyak yang belum mampu menentukan kariernya di masa depan. Mereka sebagian bukanlah tipe anak muda yang suka berencana.

“Yang paling sering dihadapi anak muda, banyak yang belum tahu jadi apa, belum tahu mau ngapain. Ini jadi tantangan besar,” ujar Ricky saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (15/11/2018).

Padahal, menurut Ricky, dunia pekerjaan saat ini tanpa ada batasnya. Mestinya, generasi milenial paham dengan tujuan hidup, juga tahu bakat dari awal.

Ketika bekerja, seseorang biasanya bergantung pada passion. Setelah memahami diri sendiri, barulah menentukan pilihan dalam berkarier.

“Kalau sudah tahu apa bakatnya, maka harus selesaikan dulu masalah yahg dihadapi. Ini sama dengan melihat kesenangan dan passion pribadi dalam bekerja,” tambahnya.

Selain sulit menentukan pekerjaan, tambah CEO Impact Factory itu, generasi milenial senangnya terburu-buru dalam berproses. Padahal saat ingin mendapat sebuah penghargaan, pasti bakal menghadapi suatu hal yang berliku. Sampai-sampai, generasi milenial banyak yang takut gagal sampai akhirnya putus asa.

“Ada beberapa fase yang dihadapi saat ingin mendapatkan sesuatu yang berharga. Padahal butuh proses, jadi jangan takut kalau gagal,” terang dia.

Langkah antisipasi tentunya harus dilakukan oleh seseorang dalam menggapai impian. Tapi tentu harus banyak sabar dan menikmati setiap proses tersebut.

“Kalau mengalami kegagalan, dampaknya bisa saja cepat frustasi, mudah menyerah, dan membuang waktu,” pungkas dia.